Novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan Karya TASARO GK

Kategori: Bentang Pustaka » Novel Berkualitas » Tentang Islami » Tentang Kehidupan | 480 Kali Dilihat
Novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan Karya TASARO GK Reviewed by bursabuku on . This Is Article About Novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan Karya TASARO GK

Jual Novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan Karya TASARO GK – Kamu udah punya novel KEREN ini belum? Kami jual novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan dari penerbit BENTANG PUSTAKA lho.. Berikut sinopsis novelnya : “Paman, tolong aku! Tolong aku, Paman!” Suara Xerxes selalu mengiang di telingan Kashva setiap terbangun… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga:Rp 109.000
Order via SMS

628986508779

Format SMS :Judul Buku#Alamat (Sertakan kecamatan dan kode pos)#Nama#No HP#Email
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : #muhammad2
Stok Tersedia
0.4 Kg
18-05-2016
header 728 x 90 3
Detail Produk "Novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan Karya TASARO GK"

Jual Novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan Karya TASARO GK –

Kamu udah punya novel KEREN ini belum?

Kami jual novel MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan dari penerbit BENTANG PUSTAKA lho..

Berikut sinopsis novelnya :

“Paman, tolong aku! Tolong aku, Paman!”

Suara Xerxes selalu mengiang di telingan Kashva setiap terbangun dari tidurnya. Anak dari perempuan pujaan yang dititipkan kpadanya ketika terjadi penyerangan oleh pasukan Raja Khosrou itu, kini terpisah darinya.

Minggu demi minggu dilalui Kashva di Tibet dengan mendaki 13 gunung suci bersama Biksu Tashidelek. Ia pun tenggelam dalam lautan peziarah di tempat berkumpulnya segala doa itu, demi satu tujuan. Menemukan kembali Xerxes!

Peristiwa hilangnya Xerxes membuat pikiran Kashva hanya tertuju untuk menemukan cara agar mereka dapat bertemu kembali. Kashva bahkan hampir lupa dengan tujuan utama dari pelariannya kali ini. Sebuah perjalanan panjang untuk mencari Astvat-ereta, Sang Al-Amin, guna menyucikan ajaran Zardust, sebelum akhirnya Tashidelek memberinya sutra-sutra Budha.

Kehilangan yang hampir membuat rasa putus asa juga dirasakan oleh ‘Umar bin Khattab. Ia harus menggantikan Abu Bakar yang telah meninggal untuk berangkat ke medan jihad di Irak dan Syam. Rasa ragu dan takut sempat menghampirinya. ‘Umar merasa tidak mampu menjadi pemimpin bagi banyak umat, sebab Nabi Muhammad dan Abu Bakar tidak bisa dijumpainya lagi untuk meminta bimbingan.

Perjalanan pencarian Kashva dan perjuangan para mujahid pada zaman pasca kenabian akan membawa kita kembali ke Jazirah Arab ribuan tahun lalu untuk merasakan hidup bersama Muhammad, Sang Manusia Pilihan. Akankah suasana khusyuk di Tibet yang membuat Kashva belajar banyak makna kehidupan dapat memberikan jawaban mengenai Al-Amin yang sedang dicarinya?

 

 

REVIEW NOVEL MUHAMMAD 2 Para Pengeja Hujan Karya TASARO GK

“Jika kisahmu diulang seribu tahun setelah kepergianmu, maka mereka yg mencintaimu akan merasakan kehilangan yg sama dgn para sahabat yg menyaksikan hari terakhirmu, wahai, Lelaki yang Cintanya Tak Pernah Berakhir.” [opening words of Muhammad Para Pengeja Hujan]

Memang bahasa Tasaro GK lebih indah. Cerita Kashva tidak lagi dominan seperti dalam buku yang pendahulunya. Di dalam buku ini, ada banyak kejadian baru, nama tokoh-tokoh baru yang membuat kita lebih keras untuk menghapalnya.

Sayangnya, ada salah satu kisah yang menceritakan Sayidah Fatimah keberatan dengan kekhalifahan Abu Bakar karena merasa Sayyidina Ali lebih berhak. Memang masih banyak kekhilafan dalam kisah para sahabat, tapi rasanya kok ganjil buat saya. Seperti ada unsur syi’isme. Sehingga dari bintang lima yang saya nobatkan pertama membacanya saya ralat menjadi bintang empat.

Selain dari itu saya rasa buku ini bagus. Cukup detail untuk visualisasi dalam segala hal di setiap ceritanya. Walaupun banyak sekali perang tapi kita seperti sedang menyaksikan langsung atau menonton layar raksasa. Juga banyak fase masa kecil Rasulullah yang menarik tapi jarang dikupas. Yang terkenal adalah kala dada Nabi Muhammad SAW dibelah, padahal selain itu masih ada banyak moment-moment masa kecil Rasulullah yang luar biasa.

Dan itu ada di buku Tasaro ini, Muhammad 2: Para Pengeja Hujan.”

( Thiya Renjana, Goodreads Indonesia )

Akhirnya selesai juga membaca buku setebal 688 halaman ini, dan seperti mengetahui permintaan pembaca buku sebelumnya, di buku ini, penulis menambah porsi kisah Sang Nabi dan para sahabat lebih banyak ketimbang dari petualangan Kashva.

Masih seperti buku pertamanya, buku ini saya berikan bintang 5. Susunan kata dan kalimatnya sungguh indah, penulisnya benar-benar piawai dalam memainkan kalimat, kata perkata dipilih dengan sangat hati-hati. Ada beberapa bagian yang menjadi pertanyaan saya, seperti entah kenapa penulis memilih untuk mengisahkan masa kecil Sang Nabi di buku kedua ini, bukan di buku pertama. Lazimnya, saya kira kisah Sang Nabi akan dipaparkan pada buku pertama sebagai awal tanda kenabiannya, tapi ternyata tidak, terjawab sudah pertanyaan saya di buku sebelumnya, kenapa saya tidak menemukan kisah masa kecil Sang Nabi, bagian dimana Beliau dibesarkan oleh Halimah, ibu susunya, ternyata baru di buku kedua saya menemukannya.

Penulis juga buru-buru “mewafaatkan” kisah Sang Nabi. Well, itu kesan yang saya dapat, soalnya, baru separuh buku ini, penulis sudah menceritakan bagaimana Rasulullah wafat. Sayang, saya merasa ada detail kecil yang penulis lewatkan, tapi justru sebelumnya sangat saya tunggu-tunggu bila sudah waktunya pada bagian ini, yaitu kisah yang saya selalu dengar, ketika Sang Nabi akan dipanggil, diujung nafasnya, Beliau berkata “Ummati..Ummati.. Ummati” Nah ini, justru saya tidak temukan di buku ini, kecewa sih.

Jika buku pertama berjudul, Sang Penggenggam Hujan, yaitu Rasulullah saw sendiri. Maka, saya berkesimpulan bahwa Para Pengeja Hujan adalah para sahabat Rasulullah, bagaimana mereka berjuang menegakkan panji Islam selepas ditinggalkan Sang Nabi. Nah, ternyata benar, separuh buku ini lagi menceritakan tentang perjuangan para sahabat, yang didominasi oleh kekhalifahan Abu Bakar, dan pertempuran Khalid bin Walid ketika mengalahkan Persia dan Romawi. Splendid! semuanya berhasil diceritakan oleh penulis dengan detail, seakan-akan saya ikut berada di dalamnya.

Overall, memang ada beberapa bagian yang saya pertanyakan, ketika cerita yang disampaikan sedikit membentur ingatan saya, pertanyaan “emang ini iya yah?” ketika Ali pernah menolak untuk membaiat Abu Bakar diawal masa pengukuhannya. Tapi, tak lantas mengurangi nilai bintang buku ini. Petualangan Kashva pun juga menarik, beberapa tokoh sahabat Kashva di buku pertama yang samar keberadaannya terjawab sudah di buku kedua ini, seperti Elyas dan Biksu Teshidelek”

(Fauza, Goodreads Indonesia)

Sejarah Nabi Muhammad dan Islam Dalam Novel

Inilah novel kedua dari novel biografi Muhammad, Nabi umat Islam yang dicintai seluruh umat. Setelah novel pertamanya, ‘Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan’, Tasaro kembali membawa pembaca masuk ke dalam masa awal mula penyebaran ajaran Islam melalui ‘Muhammad, Para Pengeja Hujan’. Pembaca dibawa ikut merasakan bagaimana Islam membawa kedamaian untuk umatnya. Bagaimana kekuatan Islam menaklukan negara-negara sekitar Arab, termasuk Romawi dan Persia yang kokoh pemerintahannya pada masa itu. Namun yang terpeting dari semua itu, pembaca dibuat menyadari betapa pantasnya Nabi Muhammad dicintai dan ditaulandani dengan berbagai karakter yang memang amat mulia untuk seorang manusia. Tasaro melalui novelnya membangkitkan perasaan cinta pembaca untuk Sang Nabi, bukan dengan terpaksa, tapi dengan jatuh cinta lagi dan lagi.

Dengan dua novel biogafi ini, Tasaro tergolong berhasil menyuguhkan cara paling menyenangkan untuk mengenal Nabi Muhammad dan sejarah penyebaran Islam. Sebenarnya sudah sangat banyak buku non fiksi yang memuat sejarah tentang Nabi Muhammad. Tapi, novel Tasaro punya keunggulan sendiri. Jika membaca sejarah Nabi Muhammad dan sejarah Islam lewat buku non fiksi, pembaca cenderung akan merasa bosan dan merasa ‘berat’ karena disajikan layaknya buku pelajaran. Melalui novel pembaca akan lebih santai membaca dan lebih mudah untuk hanyut dalam kisahnya.

Layaknya sebuah novel biografi, secara keseluruhan cerita novel ini tentulah sudah bisa ditebak. Terutama untuk pembaca yang sudah tahu atau bahkan sudah hafal tentang sejarah Nabi Muhammad dan Islam. Novel ini tentu menceritakan hal yang sama. Namun, novel ini cenderung lebih kuat dan lebih segar dibaca dengan cerita yang dibuat mengalir dengan “rekaan-rekaan” percakapan yang sangat mencirikan karakter Nabi Muhammad. Seorang Nabi yang menghadapi berbagai masalah, berbagai hinaan dengan sabar, mulia dan tanpa dendam. Seorang Nabi yang tak pernah putus asa. Dengan keunggulan cara bercerita itu, membuat pembaca yang walaupun sudah tahu kisahnya tetap menikmati ceritanya yang jauh dari membosankan.

Pada Novel pertama, ‘Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan’, pembaca dibuat ikut merasa cemas dan deg-degan mengikuti perjalanan awal mula Nabi Muhammad menyebarkan Islam. Masa-masa yang sulit membuat pembaca bergidik, resah dan sedih. Salah satunya merasakankan perang Uhud yang memberikan kepedihan teramat besar bagi umat Islam kala itu. Pembaca dibuat ikut merasakan kesedihan dan kemarahan atas kematian paman Nabi Muhammad, Hamzah yang dibunuh dengan cara keji oleh kaum Quraisy. Begitu pula tentang cerita bagaimana kekuasaan Allah membuat Umar Bin Khatab, lelaki arab masa itu yang termasuk dalam daftar orang paling ditakuti kebengisannya. Diceritakan bagaimana Umar Bin Khatab yang awalnya sangat membela kepercayaan menyembah berhala hingga berpaling menjadi salah satu pembela Islam yang paling tangguh.

Pada novel ke dua ini, ‘Muhammad, Para Pengeja Hujan’ tentulah menceritakan kelanjutan bagaimana penyebaran Islam setelahnya. Islam melesat pesat, menaklukkan negara-negara ‘raksasa’ seperti Romawi dan Persia. Berbagai kemenangan yang sebelumnya tampak mustahil diraih, menjadi bukti Islam memang agama Allah dan Nabi Muhammad berikut penyebar Islam selalu dilindungiNya. Pembaca dibuat ikut merasakan kebanggaan yang membuncah bersama kemenangan itu.

Namun ditengah-tengah masa kejayaan, Nabi Muhammad kembali kepada-Nya. Pembaca ikut merasakan kepedihan dan kesedihan yang dirangkaikan Tasaro dengan Apik. Ditambah lagi dengan berbagai masalah yang satu per satu bermunculan sepeninggalan Nabi Muhammad. Benih-benih perpecahan yang bermunculan hanya sesaat setelah kepergian Rasulullah SAW membuat pembaca ikut merasakan kecemasan dan kemarahan. Bagian sejarah ini tak terlalu menyenangkan dibaca. Tapi Tasaro menulisnya dengan menarik hingga membuat pembaca bisa memahami mengapa benih-benih perpecahan itu mucul.

Kisah pada novel lalu mengalir mengikuti Abu Bakar yang menjadi Khalifah pertama. Sungguh amat sulit kiranya menjadi seorang Abu Bakar, Khalifah pertama sepeninggal Rasulullah. Jika ada orang yang paling miskin di Madinah saat itu; itu adalah beliau, khalifah, pemimpin ummat Islam, karena takutnya beliau kepada Allah SWT dan ketaatannya kepada Rasul-Nya. Belum lagi konflik dengan Fathimah, putri sahabat yang dicintainya.

Ingin menjamin pembaca tak merasa bosan membaca, Tasaro juga menyelipkan cerita tentang pewaris ajaran Zardusht, Persia, Kasva yang berkelana mencari jawaban atas kabar tentang seorang lelaki mulia yang diramalkan datang membawa pencerahan di dunia. Ramalan yang ada di hampir seluruh ajaran yang ada. Kasva berkelana mencari jawaban-jawaban tentang Nabi Muhammad dengan dikejar-kejar penguasa yang takut akan punahnya ajaran Zarduhst jika jawaban itu membuktikan kebenaran ramalan.

Selang-seling cerita mengenai petualangan Kasva yang diiringi diskusi dan analisis dengan kenalan-kenalan sepanjang perjalanan tentang ramalan pencerah yang akan datang dan perjalanan Nabi Muhammad membuat cerita semakin tak membosankan. Malah membuat pembaca lebih mudah untuk memahami tentang sejarah di balik datangnya Islam.

Secara keseluruhan agaknya Tasaro bukan hanya menceritakan tentang Nabi muhammad saja. Novel ini lebih kaya dari itu. Penceritaan yang masih detail setelah sepeninggalan Nabi Muhammad setidaknya membuat novel ini pantas disebut sebagai novel Sejarah Islam.”

( Septri Lediana, Goodreads Indonesia )

Tertegun kembali kalimat-kalimat pembuka di awal cerita
“Jika kisahmu diulang seribu tahun stlh kpergianmu, maka mrka yg mncintaimu kan merasakn kehilangan yg sama dgn para sahabat yg menyaksikn hari terakhirmu, wahai, Lelaki Yg Cintany Tak Pernah Berakhir. Mereka mmbaca kisahmu, ikut trsenyum brsamamu, brsedih karena pnderitaanmu, mmbuncah bangga oleh keberhasilanmu, dan berair mata ktk mndengar berita kepergianmu. Seolah engkau kemaren ada di sisi, dan esok tiada lagi”

Ya, Tasaro kukira cukup berhasil membawa suasana itu. Bagaimana kisah sirah yang dibuat menarik untuk disimak dan membuat hati berdegup kencang, air mata mengalir, api semangat membuncah. Kisah masa kecil sang manusia terbaik, sampai kepada kesedihan akhir hidup sang pembawa risalah. Kisah pasca kenabianpun masih cukup tuk membuat betapa diri ini mengagumi Para Pengeja Hujan yaitu para sahabat rasul yang terkaderisasi dengan luar biasa oleh tangan Rasul.

Akhir cerita yang ditutup oleh pesan terakhir Abu Bakar kepada khalifah Umar yaitu “berhati-hatilah Umar” dan kisah kashva yang masih belum berakhir cukup tuk membuatku menunggu kelanjutan novel ini…”

( Rino Ferdian, Goodreads Indonesia )

Seperti buku pertamanya, buku ini juga masih meramu biografi dan fiksi secara apik. Sebutan novel biografi terasa amat tepat di buku ini. Kata-kata penuh imajinasi mewarnai seluruh isi buku ini. Diksi yang puitis juga ditemukan dalam uraian-uraian prosa yang secara indah menggambarkan kerinduan yang dalam terhadap sang nabi.

Ada dua alur cerita dalam buku ini, yang pertama menceritakan kehidupan Muhammad dan yang kedua menceritakan tokoh fiksi bernama Kashva. Pada buku pertama cerita Kashva mengisahkan tentang nubuat-nubuat tentang datangnya seorang utusan Tuhan dengan segala kecemerlangannya. Tidak seperti buku pertama, cerita Kashva berkembang lebih dari sekedar alur yang membangun atmosfer dari biografi Muhammad. Dengan gayanya yang imajinatif, Tasaro membangun kisah Kashva menjadi cerita menarik penuh dengan intrik-intrik.

Penggambaran peristiwa-peristiwa dalam buku ini juga terasa amat nyata. Mungkin di sinilah kekuatan Tasaro. Perang-perang yang digambarkan dalam buku ini terasa amat nyata dan kolosal.

Ada satu hal yang, menurut saya, dapat membuat buku ini jauh lebih menarik. Tasaro seharusnya mau sedikit keluar dari zona aman-nya. Misalnya, pada peristiwa perselisihan antara Abu Bakar dan Fathimah. Pada peristiwa itu posisi Tasaro terasa sangat mengambang. Tasaro juga seharusnya mampu untuk menggali lebih dalam mengenai kehidupan pribadi Muhammad, hal-hal kecil menarik yang mungkin akan lebih mengena disampaikan dengan media sebuah novel yang lebih bebas.

Secara garis besar, sebuah buku bagus yang sangat layak untuk dinikmati. Bintang empat!

NB: Ada satu bab di buku pertama yang saya harapkan mendapat jawaban di buku kedua ini, ternyata tidak. Pada buku pertama bab 2 Surat Bahira halaman 7, di sana ada adegan percakatan antara dua lelaki di Madinah. Pada bagian akhir bab terdapat sebuah nama, Elyas. Pada bagian akhir buku kedua, tokoh Elyas disebutkan hanyalah tokoh khayalan Kashva. Jadi siapakah Elyas yang telah tiba di Kota Cahaya?”

(Vidi, Goodreads Indonesia )

 

 

=========================================

Belanja Sambil Berbagi : Dengan membeli buku di BursaBukuBerkualitas berarti telah BERBAGI #BuatMerekaTersenyum, karena 10% laba usaha kami, disisihkan untuk kegiatan sosial komunitas Pecinta Anak Yatim & Doeafa Indonesia Tercinta

Jazaakumullah… :)

 

header 728 x 90 3

Tags: , , , , , , ,