Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR

Kategori: Balai Pustaka » Novel Berkualitas » Tentang Cinta » Tentang Kehidupan | 310 Kali Dilihat
Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR Reviewed by Bursa Buku Berkualitas on . This Is Article About Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR

Jual Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR – Kamu udah punya novel KEREN ini belum? Kami jual novel AZAB DAN SENGSARA dari penerbit BALAI PUSTAKA lho.. Berikut sinopsis novelnya :   Karya sastrawan Merari Siregar ( 1896-1940 ) Azab dan Sengsara ini merupakan roman pertama Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga:Rp 55.000
Order via SMS

628986508779

Format SMS :Judul Buku#Alamat (Sertakan kecamatan dan kode pos)#Nama#No HP#Email
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : #azabdansengsara
Stok Tersedia
0.4 Kg
26-01-2017
header 728 x 90 3
Detail Produk "Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR"

Jual Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR –

Kamu udah punya novel KEREN ini belum? Kami jual novel AZAB DAN SENGSARA dari penerbit BALAI PUSTAKA lho..

Berikut sinopsis novelnya :

Sinopsis Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR

Sinopsis Novel AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR

 

Karya sastrawan Merari Siregar ( 1896-1940 ) Azab dan Sengsara ini merupakan roman pertama Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1920, yang mempermasalahkan hal kawin paksa dalam adat Minangkabau. Sebuah tema penggarapan yang akan bertahan sekitar dua dasawarsa lamanya.

Plot yang disusun pengarang melibatkan interaksi kehidupan anak laki-laki dan perempuan dari dua keluarga, yaitu Baginda Diatas dan Sutan Baringin, kedua-duanya bangsawan kaya, berlangsung di daerah Sipirok, Padang dan Medan, Sumatera Utara, dengan berbagai konflik dan komplikasi tak putus-putusnya.

Beda status sosial, dominasi peramal, tipu muslihat, kecemburuan, paksaan, siksa, perceraian dan diakhiri dengan ajal Mariamin, tokoh perempuan muda bernasib malang yang saleha itu.

-Taufiq Ismail, penyair dan budayawan

REVIEW NOVEL AZAB DAN SENGSARA Karya MERARI SIREGAR

Apapun itu saya berhasil membacanya sampai selesai tanpa mencari-cari halaman terakhir.. kosa katanya sangat bagus dan saya kagumi, cerita-ceritanya yang berputar-putar saya juga nerimo apa adanya.. mungkin saya memang pembaca yang nerimo…kkk
azab dan sengsara, ya orang baik belum tentu juga hidupnya bahagia, tapi intinya biarlah sengsara di dunia asal tetap menjaga iman dan mendapat ketenangan di tempat yang lain..

(Senja Nilasari, Goodreads Indonesia)

=========================================

Sebuah karya sastra dengan kisah tragis yang mirip dengan kisah Sitti Nurbaya. Jika Sitti Nurbaya merupakan sebuah hikayat dari ranah Minang, Azab dan Sengsara ini adalah sebuah hikayat dari ranah Batak—dapat kita tebak dari nama penulisnya dan kover buku ini. Kedua buku tersebut memiliki inti cerita yang tidak jauh berbeda, yaitu kisah kasih tak sampai antara dua insan manusia. Sepertinya kisah-kisah seperti itu sempat menjadi tren di masa itu karena kedua buku ini pertama kali terbit dengan rentang waktu yang tidak jauh berbeda (Azab dan Sengsara pada tahun 1920; Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai pada tahun 1922).

Buku ini secara garis besar bercerita tentang kisah kasih antara Mariamin—biasa disebut Riam dalam cerita—dan Aminuddin. Mereka adalah pemuda dan pemudi yang berasal dari kampung Sipirok yang termasuk ke dalam karesidenan Tapanuli. Cerita diawali Aminuddin yang berpamitan dengan Riam karena akan merantau mencari pekerjaan di Deli. Mendengar berita itu Riam menjadi sedih karena mereka akan segera berpisah. Tapi, Aminuddin berjanji jika sukses dalam pekerjaannya nanti dia akan mempersunting Riam. Meskipun rasa sedihnya tidak hilang, hal itu menimbulkan sebuah harapan yang besar di hati Riam. Dan selama perpisahan itu mereka saling bertukar kabar lewat surat. Hingga melalui surat ini pula Aminuddin memberi kabar pada Riam bahwa akan segera mempersuntingnya. Namun, keinginan Aminuddin tersebut tak direstui orangtuanya karena Riam adalah seorang gadis dari keluarga miskin. Hingga Aminuddin pun dijodohkan dengan gadis lain dari keluarga yang lebih tinggi derajatnya.

Seperti yang saya katakan di awal tadi, kisah ini memiliki inti yang sama dengan kisah Sitti Nurbaya. Bedanya jika Sitti Nurbaya dijodohkan dengan Datuk Meringgih karena keterpaksaan demi menyelamatkan orangtuanya—orangtuanya sendiri tidak setuju dengan perjodohan tersebut, di kisah ini justru Aminuddin dijodohkan karena perintah orangtuanya. Kisah asmara antara Riam-Aminuddin dan Sitti Nurbaya-Samsulbahri juga tidak jauh berbeda, mereka sama-sama sudah saling kenal dan bersahabat sejak kecil. Malah antara Riam dan Aminuddin ini memiliki hubungan kekerabatan. Mereka adalah saudara sepupu karena ibu Aminuddin adalah adik kandung Sutan Baringin—ayah Riam. Karena itulah Aminuddin memanggil ayah dan ibu Riam dengan sebutan tulang dan nantulang. Gara-gara ikatan kekerabatan inilah Riam dan Aminuddin sudah dekat dan bersahabat sejak kecil dan hubungan mereka lambat laun berkembang menjadi asmara seperti yang diceritakan di awal kisah ini.

Nah, yang menjadi penyebab utama kegagalan hubungan ini adalah kemalangan yang menimpa keluarga Riam. Pada awalnya keluarga Riam adalah keluarga yang kaya raya karena Sutan Baringin mewarisi harta yang melimpah dari moyangnya. Tapi, karena Sutan Baringin memiliki sifat yang tamak, maka keluarga itu jatuh ke dalam jurang kemiskinan yang paling dalam. Kemalangan itu diceritakan dalam kisah ini melalui alur flashback. Karena itu alur cerita buku ini berjenis campuran. Adanya alur flashback ini terasa mengganggu. Apalagi yang dikisahkan dalam alur tersebut sampai menghabiskan empat bab! Padahal buku ini hanya memiliki sembilan bab. Jadi hampir separuh cerita buku ini kita diajak untuk ber-flashback ria! Hal ini membuat saya tidak “nyaman” ketika membaca buku ini. Bayangkan saja ketika Anda menonton anime atau film-film kartun Jepang di saat adegan sedang seru-serunya. Kemudian di tengah-tengah adegan itu salah seorang tokoh/karakternya menceritakan kisah masa lalunya. Nah, mengesalkan, kan? Itulah yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Untungnya buku ini memiliki penampilan yang tidak kuno-kuno amat. Biasanya buku-buku sastra Balai Pustaka cetakan lama memiliki tampilan isi yang sedikit compang-camping—ukuran font kecil-kecil, line spacing sangat rapat, baris-barisnya pun terkadang banyak yang miring. Tapi, buku ini sudah memiliki tampilan isi yang rapi dan ukuran font yang cukup besar sehingga enak dibaca—mungkin karena buku yang saya baca ini sudah cetakan tahun 90-an. Selain itu, buku ini juga banyak memberikan petuah kehidupan dan pelajaran kebudayaan daerah layaknya karya sastra lama Indonesia lainnya.

Dalam buku ini secara khusus Merari Siregar mengkritik sistem perjodohan yang marak di waktu itu—seperti yang diceritakannya dalam buku ini. Menurutnya sistem perjodohan seperti itu membunuh hak setiap orang untuk memilih sendiri pasangannya. Lha yang menjalani sebuah pernikahan kan si anak, bukan si orangtua. Selain itu dia juga mengkritik salah satu adat Batak yang melarang seseorang untuk menikahi orang lain yang memiliki marga yang sama. Contohnya seperti ini: ada seorang lelaki bermarga Siregar, maka lelaki itu tidak boleh menikahi perempuan dari marga Siregar meski hubungan kekerabatan mereka sudah sangat jauh (artinya nenek moyang mereka yang hidup ratusan tahun lalu yang bersaudara). Sementara itu lelaki bermarga Siregar tadi boleh mengambil istri dari keluarga Harahap meski hubungan kekerabatan di antara mereka masih dekat. Misalnya masih satu nenek, yang artinya nenek si lelaki dari pihak ibu dan nenek si perempuan dari pihak ayah. Jadi mereka beda marga, tapi masih sedarah—yang ini malah diizinkan oleh adat. Menurut Merari Siregar aturan-aturan seperti ini harusnya diubah karena sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman di waktu itu. Dan lewat karyanya inilah dia menyuarakan kitik-kritiknya itu agar hak untuk bebas memilih pasangan bagi setiap insan dapat terwujud di negeri ini.

Karena kritik-kritik, petuah-petuah yang disampaikan, dan ulasan-ulasan tentang kebudayaan Batak yang disampaikan dalam buku ini, saya memberi rating yang lumayan untuk buku ini. Apalagi dengan jalan cerita buku ini tergolong klise. Dari buku ini pula saya jadi belajar dan sedikit memahami budaya Batak. Contohnya ya hal tentang perkawinan semarga tadi. Selain itu saya juga jadi tahu bahwa Tapanuli sebenarnya berasal dari frasa Tapian na Uli yang artinya tepian yang elok. Dan masih banyak lagi hal-hal lain tentang budaya Batak disampaikan di buku ini. Inilah yang saya sukai dan keuntungan dari membaca karya sastra lama Indonesia. Selain kita membaca sebuah hikayat, secara tidak langsung kita juga mempelajari budaya daerah negeri ini yang sangat beragam. Jadi, kenalilah negerimu lewat sastra.

 
(Muhammad, Goodreads Indonesia)  

============================================

Ya! Kebanyakan dari kita tentu sudah tidak asing lagi dengan novel ‘klasik’ yang satu ini.

Azab dan Sengsara boleh dikata merupakan salah satu karya sastra lama yang sampai saat ini masih menjadi acuan, pedoman serta bacaan wajib dalam dunia kesastraan Indonesia.

Walaupun beberapa orang mengaku belum membaca ‘Azab dan Sengsara’ secara keseluruhan,setidaknya pasti mereka pernah menemukan cuplikan atau kutipan singkat cerita dari novel ini baik di buku cetak pelajaran Bahasa Indonesia ataupun LKS Bahasa Indonesia sendiri (hayooo ngaku hayooo ^^)

Membaca novel ini setelah sekian lama seperti nostalgia bagiku.Keindahan tersendiri dari sastra lama selalu menyenangkan untuk dinikmati berulang kali

(Farah Putrizeti, Goodreads Indonesia)

 

=========================================

Belanja Sambil Berbagi : Dengan membeli buku di BursaBukuBerkualitas berarti telah BERBAGI #BuatMerekaTersenyum, karena 10% laba usaha kami, disisihkan untuk kegiatan sosial komunitas Pecinta Anak Yatim & Doeafa Indonesia Tercinta Jazaakumullah… :)

=============================================================

incoming search terms :

jual novel azab dan sengsara
jual buku merari siregar
harga novel azab dan sengsara
sinopsis novel azab dan sengsara
review novel azab dan sengsara
azab dan sengsara
buku merari siregar
toko buku online indonesia
toko buku di jakarta
cara pesan buku
jual buku sastra
jual buku bagus

header 728 x 90 3

Tags: , , , , , , , , ,