Buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI Karya M Aan Mansyur (Puisi Rangga di Film AADC 2)

Kategori: Buku Kumpulan Puisi » Gramedia » Tentang Cinta » Tentang Kegalauan | 1098 Kali Dilihat
Buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI Karya M Aan Mansyur (Puisi Rangga di Film AADC 2) Reviewed by bursabuku on . This Is Article About Buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI Karya M Aan Mansyur (Puisi Rangga di Film AADC 2)

Buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI Karya M Aan Mansyur- Kamu udah punya buku KEREN ini belum? Kami jual buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI dari penerbit GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA lho.. Berikut sinopsis bukunya : Hari-hariku membakar habis diriku Setiap kali aku ingin mengumpulkan tumpukan abuku sendiri, jari-jariku… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga:Rp 52.000
Order via SMS

628986508779

Format SMS :Judul Buku#Alamat (Sertakan kecamatan dan kode pos)#Nama#No HP#Email
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : #tidakadanewyorkhariini
Stok Tersedia
0.2 Kg
18-05-2016
header 728 x 90 3
Detail Produk "Buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI Karya M Aan Mansyur (Puisi Rangga di Film AADC 2)"

Buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI Karya M Aan Mansyur-

Kamu udah punya buku KEREN ini belum?

Kami jual buku TIDAK ADA NEW YORK HARI INI dari penerbit GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA lho..

Berikut sinopsis bukunya :

Hari-hariku membakar habis diriku
Setiap kali aku ingin mengumpulkan
tumpukan abuku sendiri, jari-jariku
berubah jadi badai angin.

Dan aku mengerti mengapa cinta diciptakan-

 

 

REVIEW BUKU TIDAK ADA NEW YORK HARI INI

“Sepertinya ini buku puisi pertama yang membuat saya bersemangat untuk terus membacanya berulang ulang. Baru dua kali dibaca, dan rasanya seperti duduk berdua bersama Rangga, bahagia.
Cinta adalah hal absurd yang bahasannya laris di mana mana. Semua orang berlomba mencicipinya lalu memamerkannya kepada dunia seakan berteriak, Lihat! Aku telah bertemu Cinta!

Puisi puisi di buku ini mungkin salah satu di antaranya. Menarik sekaligus menggelitik sudut hati yang telah lama menganggap cinta sebagai hal picisan dalam cerita remeh temeh. Tapi sahajanya, cinta adalah kata universal yang dapat hadir di mana saja dalam bentuk apa saja. Tak melulu remeh temeh. Ia bisa hadir di halaman belakang, di taman, bahkan di jendela pesawat terbang.
Bagi saya pribadi, buku ini menyiram jiwa saya yang telah lama kering kehilangan kata kata para pujangga.”

( Alvina. Goodreads Indonesia)

================================

“Kumpulan puisi yang ditulis oleh M. Aan Mansyur yang digunakan sebagai puisi Rangga di film ‘Ada Apa Dengan Cinta 2’. Seru loh kalau sudah baca buku ini dulu baru nonton filmnya. Pas nonton filmnya dan ada bagian Rangga baca puisi-puisinya, saya bisa langsung merasa, “Ah, ini kan yang ada di buku.”
Beberapa cuplikan puisi yang muncul di film:

Tidak Ada New York Hari Ini
Tidak ada New York hari ini.
Tidak ada New York kemarin.
Aku sendiri dan tidak berada di sini.
Semua orang adalah orang lain.
Bahasa ibu adalah kamar tidurku.
Kupeluk tubuh sendiri.
Dan cinta-kau tak ingin aku
mematikan mata lampu.
Jendela terbuka
dan masa lampau memasukiku sebagai angin.
Meriang. Meriang. Aku meriang.
Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.
Pukul 4 Pagi
Tidak ada yang bisa diajak berbincang. Dari jendela
kau lihat bintang-bintang sudah lama tanggal. Lampu-
lampu kota bagai kalimat selamat tinggal. Kau rasakan
seseorang di kejauhan menggeliat dalam dirimu. Kau
berdoa semoga kesedihan memperlakukan matanya
dengan baik.
Kadang-kadang kau pikir, lebih mudah mencintai
semua orang daripada melupakan satu orang. Jika
ada seseorang terlanjur menyentuh inti jantungmu,
mereka yang datang kemudian hanya akan
menemukan kemungkinan-kemungkinan.
Pagi di Central Park
[…]
Aku seperti menyalami kesedihan lama
yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-
puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami
sepasang kolam yang dalam dan diam
di kelam wajahmu.
Batas
Semua perihal diciptakan sebagai batas.
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.
Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok
batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan
deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara
dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh
tempat di mana pernah ada kita.
[…]
Apa kabar hari ini? Lihat tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.

Kalau mau baca puisi lengkapnya, bisa baca di buku ini.
Secara keseluruhan, puisi-puisinya bertemakan rindu dan keinginan untuk memiliki kembali seseorang yang pernah istimewa dalam hidup sang penyair. Kumpulan fotonya memperlihatkan berbagai orang, tempat, dan kehidupan di New York.”

(Biondy, Goodreads Indonesia)

=====================================

“Sekarang aku mulai bias.
Ini siapa yang nulis puisinya? Aan atau Rangga? Rangga atau Aan?
*oke, mulai delusional*

 

Tau nggak, karena waktu itu aku dateng ke launching buku ini dan menyaksikan sendiri bagaimana Aan Mansyur membawakan empat puisi yang terdapat di buku ini, selama menikmati semua puisi di buku ini jadi seperti sedang mendengarkan Aan membacakannya sendiri.
Ya ampun.

Nggak ada yang nggak kusukai dari buku ini. Tata letaknya cantik, foto-fotonya j.u.a.r.a, apalagi kata-katanya….
Duh, pokoknya bikin hati KRAK lah pas bacanya. Kalau ditanya puisi favoritku di buku ini, akan sangat susah sekali untuk disebutkan. Karena rasa sayangnya sama besar untuk semua bait yang ditulis Aan. Tapi mungkin, Tidak Ada New York Hari Ini, Batas, Aku Ingin Istirahat, dan Di Dekat Jendela Pesawat Terbang adalah beberapa puisi yang kutandai di buku ini.

Rumah terakhir bagi seorang yang kucintai adalah ingatan. Memiliki kehilangan: bukti aku tidak berhenti mencintaimu. Apakah kau akan berdiri di depan pintu saat aku tiba, seperti biasa, merentangkan sepasang lengan yang selalu berharap ditubuhi?
– Di Dekat Jendela Pesawat Terbang, halaman 105 – “

 

(Jenny Faurine, Goodreads Indonesia)

“Aku nggak begitu paham tentang fotografi, jadi aku nggak akan mengomentari sumpalan foto-foto di buku ini.

Karena sudah lebih dulu menonton AADC 2, sewaktu membuka halaman pertama kumpulan puisi ini, aku sudah membayangkan puisi Aan Mansyur di sini akan menjelma Rangga. Apalagi langsung disambut dengan Tidak Ada New York Hari Ini, puisi yang jadi tulang punggung dan mungkin baitnya akan sering dikutip oleh banyak orang.

 

“Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.”

Betul, di kenang, bukan dikenang. “Di” sebelum kata “kenang” di situ bertindak sebagai preposisi, bukan prefiks. Sengaja dibahas karena di media sosial lain sering ada yang salah mengutip. Heuheu.

Puisi yang paling aku suka kebetulan muncul juga di film AADC 2, judulnya Batas. Puisi yang, menurutku, merangkum puncak perasaan Rangga terhadap Cinta.

“Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.”

 

Hebatnya Aan Mansyur, bahkan hanya dengan satu kalimat tanya yang diakhiri tanda tanya, bait itu bisa bermakna sangat dalam. Sampai ulasan ringkas ini selesai kutulis pun, aku masih senyum-senyum membacanya.

Meminjam istilah Cinta dan gengnya di AADC 2, buku ini JUARAK! “

( Rido Arbain, Goodreads Indonesia)

=================================

Suka.

Pertama kali membaca karya Aan Mansyur ternyata membuat saya jatuh hati. Menikmati kata-kata sederhana yang mengalir deras membangun bangunan makna yang luar biasa. Dua hal yang menjadi menarik dalam buku ini adalah bahwa ini tidak hanya sekedar buku kumpulan puisi. Ini adalah sebuah hasil karya kombinasi antara Aan Mansyur dan Mo Riza. Bait-bait puisi yang saling menjalin dengan rangkaian foto-foto jalanan kota New York ternyata menampilkan sebuah karya baru yang patut dinanti. Satu lagi, tentu saja perasaan saya yang semakin tak sabar untuk segera mendengar Rangga membacakan puisi-puisi ini dalam filmnya. meski tidak semua puisi dibacakan tentu saja, bernostalgia dengan cerita Cinta dan Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta menjadi daya tarik tersendiri bagi membacanya. Jadi kalo di Ada Apa Dengan Cinta bagian 1 penonton merasa perlu mencari dan membaca buku Aku karya Sjumandjaya, saat ini mungkin kamu perlu segera baca Tidak Ada New York Hari Ini yang ditulis oleh Aan Mansyur ini.”

 

(Ariel Seraphino, Goodreads Indonesia)

“Membaca terjemahan Love & Misadventure = Cinta & Kesialan-Kesialan, rasanya aku yakin kalau Aan bisa menjadi lebih terkenal ketimbang Lang Leav. Aku hanya pernah membaca kumpulan puisinya yang berjudul Melihat Api Bekerja. Memang, mulanya aku susah untuk memahaminya, tetapi ternyata makna tersirat dari setiap baitnya begitu dalam. Mengundangku untuk membaca karya yang lain. Begitu aku tahu kalau Aan diberi kesempatan untuk membuat puisi-puisi untuk salahh satu film legendaris Indonesia, Ada Apa dengan Cinta 2, aku setia menunggu hingga buku itu tersedia di toko. Dan ya, aku tidak menyesali apa yang sudah aku beli.

 

Kamu suka terperangkap dalam emosi? Beli buku ini karena buku ini tidak bisa hanya kamu baca tanpa ada perasaan ingin memiliki.”

( Hestia Istiviani, Goodreads Indonesia)

=================================

“Mungkin penulisnya begitu pandai membaca naskah, menyulap sebuah cerita linear menjadi kata-kata yang punya jiwa. Membuat rindu dan kegelisahan si tokoh Rangga benar-benar sampai kepada kita yang membaca. Mungkin.

Atau mungkin juga si penulis tahu rasanya menjadi Rangga. Berkutat dalam sesak dan ketidakberdayaan oleh rindu dan gelisah hati yang susah dicari definisinya. Mungkin.

Mungkin kita semua pernah menjadi Rangga. Hidup dalam kenangan dengan segala ‘what if’ di kepala. Membuat kumpulan puisi ini menjadi istimewa. Aan Mansyur seperti berhasil mempertemukan rasa dengan kata. Memahami isi hati dan menuangkannya dalam bait-bait yang manis. Menyapa sosok Rangga dalam diri kita.”

( Aqmarinda Andira, Goodreads Indonesia )

====================================

 

 

 

 

=========================================

Belanja Sambil Berbagi : Dengan membeli buku di BursaBukuBerkualitas berarti telah BERBAGI #BuatMerekaTersenyum, karena 10% laba usaha kami, disisihkan untuk kegiatan sosial komunitas Pecinta Anak Yatim & Doeafa Indonesia Tercinta

Jazaakumullah… :)

header 728 x 90 3

Tags: , , , , , , ,